TAMPANGNEWS.COM – Perempuan Indonesia Maju (PIM) yang dipimpin Hj. Helen Ganefo, SKM, S.Keb. M.Kes sukses memecahkan rekor MURI untuk kategori Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket Terbanyak pada 19 Juli 2026 di Palembang.
Acara ini diselenggarakan untuk memperingati Hari Kebaya Nasional ke-3.
Kegiatan yang dipusatkan di Kawasan Car Free Day (CFD) Jembatan Ampera, Palembang, Sumatera Selatan.
Kegiatan yang dinisiasi oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Perempuan Indonesia Maju Sumatera Selatan yang diketuai Hj Helen Husni, SKM, S.Keb. M.Kes berhasil memecahkan rekor muri dengan Kategori Rekor Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket Terbanyak (Nomor Rekor MURI: 12813)
Peserta berasal dari berbagai organisasi perempuan, komunitas budaya, pelajar, mahasiswa, instansi pemerintah, dan masyarakat umum. Mereka mengenakan kebaya yang dipadukan dengan beragam motif songket khas Sumatra Selatan dan berjalan bersama dari kawasan Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) menuju Jembatan Ampera.
Terpantau Ribuan perempuan dari berbagai unsur organisasi wanita, komunitas budaya, pelajar, dan masyarakat
Hadir dalam acara ini Ketua Umum PIM Ibu Lana T. Koentjoro dan Ketua Umum KOWANI Ny. Nannie Hadi Tjahjanto didampingi ketua DPD PIM Sumsel Hj Helen Ganefo, S.K.M, S.Keb. M.Kes,
Hj. Feby Herman Deru Ketua TP PKK Prov Sumsel. Hj Dewi Sastrani Ratu Dewa selaku ketua Tp PKK Kota Palembang.
Ketua DPD Perempuan Indonesia Maju Sumsel Hj Helen Ganefo menilai, keberhasilan memecahkan Rekor MURI menunjukkan kekuatan kolaborasi perempuan Indonesia dalam menjaga budaya bangsa.
“Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa ketika perempuan bersatu, berkolaborasi, dan memiliki tujuan yang sama, kita mampu menghadirkan gerakan budaya yang membanggakan bangsa Indonesia,” katanya Helen juga menyampaikan bahwa Songket adalah warisan wastra Palembang yang menunjukkan perpaduan kaya antara sejarah, nilai budaya dan keterampilan sebagai hasta karya, dimana tradisi songket berasal dari Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 yang berkembang pesat pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, abad 17 – 19; sehingga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Tenun Songket memiliki makna adiluhung melalui motif indah, corak dan ragam yang berbeda, masing-masing memiliki filosofi tersendiri dari jenis dan fungsi yang ditampilkan dalam ragam motif dan ragam penggunaan benang, yang mencerminkan tentang kemakmuran, kejayaan, dan keberanian; oleh karenanya bukan sekadar estetika sebagai busana.
Songket, meskipun berakar kuat pada trradisi, kini para perancang busana telah mengadaptasinya dan mengembangkan dalam gaya kontemporer yang memperluas penggunaannya dari busana seremonial menjadi busana se-hari” dan aksesori. Pungkasnya. (***)



