KEBUMEN — Di sudut hangat Desa Somagede, pengabdian tak selalu bergaung lewat dentum alat berat. Ia kadang hadir dalam bisik percakapan, dalam senyum yang merekah pelan, dan dalam jabat tangan yang mengalirkan kehangatan. Kamis, 26 Februari 2026, suasana sederhana itu menjelma kisah yang menggetarkan hati.
Melalui kegiatan komunikasi sosial (komsos), Satgas TMMD Reguler ke-127 Kodim 0709/Kebumen menyambangi para pelaku UMKM di Kecamatan Sempor. Bukan sekadar kunjungan, pertemuan itu terasa seperti perjumpaan dua denyut yang lama saling merindu—prajurit penjaga negeri dan rakyat penggerak ekonomi.
Dengan tutur yang membumi, para prajurit duduk berbaur di antara warung-warung sederhana. Mereka tak hanya datang membawa seragam loreng, tetapi juga telinga yang siap mendengar dan hati yang lapang untuk memahami. Kisah jatuh bangun usaha kecil mengalir lirih, tentang modal yang terbatas, tentang harapan yang kadang nyaris redup, namun tak pernah benar-benar padam.
Di momen itulah sekat-sekat perlahan runtuh. Loreng dan celemek tak lagi berjarak. Yang tersisa hanyalah rasa senasib, sepenanggungan, dan keyakinan bahwa negeri ini dibangun oleh tangan-tangan yang saling menguatkan.
Komandan Kodim 0709/Kebumen, Letkol Inf Eko Majlistyawan Prihantono, S.H., M.I.P., menegaskan bahwa komsos adalah denyut hidup pengabdian TNI di tengah rakyat. Menurutnya, TMMD bukan hanya tentang membentangkan jalan atau menegakkan bangunan, tetapi juga menyalakan kembali bara optimisme ekonomi warga.
“UMKM adalah nadi ekonomi rakyat. Kehadiran kami adalah untuk menyemangati, mendengar, dan berjalan berdampingan dalam membangun kemandirian,” tegasnya—kalimat yang sederhana, namun sarat makna.
Bagi para pelaku UMKM, kehadiran prajurit hari itu terasa lebih dari sekadar silaturahmi. Ia adalah suntikan moral, penguat langkah di tengah kerasnya perjuangan usaha kecil. Mata-mata yang semula lelah tampak kembali menyala, seolah menemukan alasan baru untuk terus bertahan.
Dari warung-warung kecil di Somagede, negeri ini kembali diingatkan pembangunan tidak selalu lahir dari gemuruh yang besar. Kadang ia tumbuh dari percakapan hangat, dari kepedulian yang tulus, dan dari kebersamaan yang dijaga dengan hati.
Di sana, di antara aroma dagangan dan debu jalan desa, harmoni itu nyata—TNI dan rakyat berdiri dalam satu irama, menenun harapan, menguatkan ekonomi, dan menjaga Indonesia tetap tegak dengan cinta.
(Pendim 0709/Kebumen)



