Minggu, Maret 1, 2026
BerandaNasionalDi Antara Debu dan Harapan, Prajurit Itu Menegakkan Kembali Martabat Sebuah Rumah

Di Antara Debu dan Harapan, Prajurit Itu Menegakkan Kembali Martabat Sebuah Rumah

Kebumen – Mentari pagi menggantung rendah di langit Desa Somagede, Kecamatan Sempor, seolah menahan napas, menyaksikan sebuah perjuangan sunyi yang perlahan mengubah nasib. Di antara kayu-kayu rapuh dan dinding yang telah lama kehilangan kekuatannya, berdirilah seorang prajurit—*Sertu Nanang*, prajurit Kodim 0709/Kebumen—dengan tatapan seteguh karang yang menantang ombak.

Rumah milik *Bapak Mislam*, yang selama ini hanya mampu bertahan dengan sisa-sisa ketegarannya, kini menjadi medan juang dalam Program TMMD Reguler ke-127. Atapnya yang dulu bocor seperti langit yang tak mampu menahan air mata, kini perlahan diganti, seakan langit baru sedang dipasang untuk menaungi harapan yang sempat redup.

Sertu Nanang mengangkat sebatang kayu, peluhnya jatuh ke tanah, menyatu dengan debu yang menjadi saksi. Di sampingnya, Bapak Mislam berdiri dengan mata berkaca-kaca, menyaksikan rumahnya yang dulu rapuh kini disentuh tangan-tangan pengabdian.

“Pak Tentara… apakah rumah ini benar-benar bisa berdiri kuat seperti rumah lainnya?” tanya Bapak Mislam dengan suara lirih, seperti angin yang takut mengganggu ketenangan.

Sertu Nanang berhenti sejenak. Ia menatap rangka rumah itu, lalu menoleh dengan senyum yang hangat, senyum seorang penjaga harapan.

“Bukan hanya berdiri, Pak,” jawabnya pelan namun tegas. “Rumah ini akan menjadi tempat yang melindungi Bapak, seperti negara melindungi rakyatnya.”

Kata-kata itu melayang di udara, menancap lebih kuat dari paku yang dipukul ke kayu. Bapak Mislam mengangguk perlahan, seolah menemukan kembali keyakinan yang lama terkubur oleh waktu dan keadaan.

Palu kembali berdentang, seperti genderang perang melawan ketidaklayakan. Setiap ayunan adalah janji. Setiap tetes keringat adalah sumpah setia yang tak terucap. TMMD bukan sekadar program pembangunan—ia adalah napas yang dihembuskan negara melalui tangan-tangan prajuritnya.

Di Desa Somagede, di antara suara kayu yang disusun dan harapan yang dirakit kembali, Sertu Nanang berdiri bukan hanya sebagai seorang tentara, tetapi sebagai penjaga martabat—membangun bukan sekadar rumah, melainkan menghidupkan kembali keyakinan bahwa negara selalu hadir, bahkan di sudut paling sunyi sekalipun.

Penulis:Agus Setiawan

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments