Minggu, Maret 1, 2026
BerandaNasionalDi Antara Beton dan Ilalang, Prajurit Menyulam Kasih di Jalan Desa

Di Antara Beton dan Ilalang, Prajurit Menyulam Kasih di Jalan Desa

Kebumen – Pagi itu, matahari belum sepenuhnya tinggi ketika debu tipis menari di atas hamparan tanah yang sedang diratakan. Di jalur pembangunan rabat beton TMMD Reguler ke-127, suara cangkul dan adukan semen bersahut seperti irama kerja yang tak pernah lelah. Di sanalah pengabdian menemukan wajahnya yang paling sederhana—dan paling tulus.

Di tengah deru aktivitas anggota Satgas TMMD Kodim 0709/Kebumen, langkah seorang warga yang memanggul sabit melambat. Ia hendak mencari rumput untuk ternaknya, namun jalur yang biasa ia tapaki kini berubah menjadi medan pembangunan. Ilalang yang dulu tumbuh liar, sebagian telah tersingkir oleh ambisi baik bernama kemajuan.

Sertu Isa Adi menangkap kegelisahan itu. Ia menghentikan sejenak pekerjaannya, menatap hamparan tepi jalan yang masih menyisakan rumput liar.
“Bapak cari rumput untuk sapi?” tanyanya lembut.
Warga itu mengangguk, tersenyum kecut. “Iya, Pak. Biasanya di sini masih banyak.”
Tanpa banyak kata, Sertu Isa Adi meraih sabit. Di antara adukan semen dan tumpukan batu, ia menyusuri sisi jalan, memotong ilalang yang tersisa, mengumpulkannya dengan cekatan.

Tangan yang biasa menggenggam senjata kini memeluk rumpun-rumpun hijau kehidupan. Keringatnya jatuh, bukan hanya untuk beton yang mengeras, tetapi juga untuk perut-perut ternak yang menunggu di kandang sederhana.
Di situlah TMMD menemukan maknanya yang paling dalam—bukan sekadar proyek fisik, melainkan jembatan empati.

Komandan Kodim 0709/Kebumen, Letkol Inf Eko Majlistyawan Prihantono, S.H., M.I.P., menegaskan bahwa setiap prajurit harus hadir bukan hanya sebagai pekerja pembangunan, tetapi sebagai penjaga rasa.
“TMMD bukan hanya membangun jalan desa, tetapi membangun kepedulian. Ketika warga membutuhkan bantuan, prajurit harus hadir. Inilah jati diri TNI, lahir dari rakyat dan mengabdi untuk rakyat,” tegasnya.

Bagi warga yang menerima bantuan itu, seikat rumput terasa lebih dari sekadar pakan. Ia adalah tanda bahwa di balik seragam loreng, ada hati yang mengerti denyut kehidupan desa. Bahwa pembangunan tidak pernah boleh memutus rantai kebutuhan harian rakyat kecil.

Program TMMD Reguler ke-127 di Kebumen terus berjalan, menghamparkan beton demi akses yang lebih baik. Namun di antara kerasnya material dan teriknya matahari, tumbuh sesuatu yang jauh lebih kokoh—rasa persaudaraan.
Di sepanjang jalan yang sedang dibangun itu, waktu seakan mencatat satu pesan sunyi: prajurit bukan hanya menegakkan tiang negeri, tetapi juga memungut ilalang harapan agar kehidupan tetap berdenyut.(Taufik Hidayat)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments